Friday, 22 September 2017

EKSPEDISI HIMITEKA IV (Keberangkatan ke Pulau Kelapa Dua)

Halo semua, kali ini gue mau cerita tentang perjalanan ekspedisi gue selama 9 hari. Produktifnya cuma 7 hari sih, sisanya perjalanan pergi dan pulang. Perjalanan dan pengalaman yang bikin kulit gue eksotis banget, pake banget, hp gue hilang, dan apalagi ya? haha. Total semua yang berangkat ada 41 manusia tapi 5 manusia diantaranya menyusul pas hari ke-4 karena 3 anak lagi PIMNAS PKM dan 2 asisten ahli yang menyusul membantu pengambilan data.
Hari itu tanggal 25 Agustus 2017 kasusnya gue lagi temu kangen sama Reva karena semenjak KKN dan libur gue belum ketemu lagi. So, kami ke Recheese Dramaga yang baru buka (berhubung masih diskon 50%) lanjut ke kostan Reva yang baru sebab gue belum pernah ke sana. Kami berlarut-larut-ria menghabiskan waktu hingga magrib karena rencana awalnya jam 7 malam ratek, pulang ke kostan, packing, terus kumpul lagi jam 12 malam untuk briefing keberangkatan. BUT, tiba-tiba disuruh kumpul jam 8 malam dengan kondisi sudah packing dan siap berangkat.

Alhasil, gue yang jam 7 baru kelar makan langsung packing kilat, mandi, dan caw jam setengah 9 malam dianter Reva kusayang. Reva gak ikut, dia mau pulang ke Medan, huaaa L. Nyebelinnya, di sana baru sedikit orang, huff, tapi gapapa daripada pergi lebih malam tapi gak dianter Reva. Soalnya begini loh, jarak kostan gue dan tempat kumpul (Sekret Himiteka, Gedung FPIK) itu jauhnya lumayan. Lo tau IPB Dramaga luas kan? Nah, lu musti jalan dari ujung ke ujung kampus! Yeah, begitulah nasibnya fakultas kami yang letaknya jauh dari garis depan.

Singkat cerita, gue sampe kampus, melihat bawaan mereka. Ada yang pake carier, ada yang bawa tas gendong gede plus goodie bag, ada yang bawa koper kecil (anak-anak bilangnya tas drone, wkwk). Sedangkan gue bawa 3 tas, tas merah gue yang biasa (isi laptop, alat sholat, make up, dompet, makanan), tas jinjing hitam gue yang ukurannya lumayan (isi baju, booties, makanan), dan tas ADS gue (masker, snorkel, fins, makanan). Hahaha isi semua tas gue selalu ada makanan.

Bosan menunggu, kami ngobrol, jajan, ngemil, lalu tidur, hingga pukul 2 dini hari tanggal 26 Agustus bus datang. Kami pun memasuki alat-alat terlebih dahulu dikomandokan para logstraner.Setelah itu kami memasuki diri kami sendiri ke bus. Tapi sebelumnya kami sempat briefing berdoa demi kelancaran ekspedisi. Kami berangkat jam 3 dini hari. Semua orang tidur di bus. Pukul 4 lewat 30 menit kami sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa. Itu pertama kalinya gue disitu, dan ternyata Sunda Kelapa ini dipenuhi banyak balok-balok yang biasanya di belakang truk. Lo tau kan maksud gue? Gue gatau namanya, hehe. Tiba-tiba keinget film Step Up yang dance-dance gitu, haha.
Kami naik kapal Sabuk Nusantara. Fyi, kapal ini berangkat dari Sunda Kelapa-P.Untung Jawa-P.Pramuka-P.Harapan-P.Kelapa tiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu serta balik lagi dengan rute kebalikannya yaitu hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Gue rekomen buat yang mau ke Kepulauan Seribu mending naik ini aja, walaupun waktu perjalanannya lebih lama, tapi untungnya lebih banyak. Tarifnya cuma 15ribu, beda kalo lo naik kapal ojek biasa yang kalo ke Kelapa bisa sampe 45-55ribu. Terus, di sini juga ada tempat tidurnya gitu, cepet-cepetan sih, tapi gue selalu dapet jadi enak gue tidur hampir di sepanjang perjalanan.

Kami sampe ke Sunda Kelapa itu kepagian coy. Kapalnya masih sepi. Dermaganya juga masih sepi. Terus baru terdengar adzan, tapi bingung mau sholat ke mana. Untungnya gue sedang berhalangan, hehe. Akhirnya kami sarapan dulu yang sebelumnya sudah disiapkan anak konsumsi. Lauknya ayam sama orek tempe. Seret banget, gak ada sayur, gue susah nelen. Lalu muncul abang-abang kapal, kami bilanglah numpang sholat, terus masukin muatan, bayar, dan nunggu kapal berangkat.

Kapal berangkat jam 8 pagi. Berhubung menunggu lama, kami yang pada dasarnya berjiwa narsis akhirnya memutuskan untuk berfoto-ria, mengelilingi kapal, berebut tempat tidur, liatin sang nahkoda yang kebetulan ganteng, dan lain-lain. Ketika kapal mulai berangkat, gue kembali ke dek bawah untuk ngobrol bentar lalu tidur. Bangun-bangun di Pulau Pramuka. Gue sengaja bangun karena katanya bisa jajan telor gulung. Tapi pas keluar, ternyata tukang dagangnya jauh dari kapal, dan karena takut ketinggalan kapal, gue akhirnya minta satu tusuk aja ke temen gue, hehe.

Kapal melanjutkan perjalanan, gue agak lama diem di pinggiran kapal, liatin pemandangan yang cerah, laut yang biru, angin yang semilir menyejukkan. Cukup puas gue balik ke dek bawah, ngobrol bentar, lalu tiba-tiba pusing. Sementara ketuplak ekspedisi gue juga sudah pusing duluan, gue ikutan pusing. Gue tiduran di tempat tidur tingkat bawah, tapi kok guncangannya tetep kenceng ya? Dengan pura-pura biasa aja, lantas gue pindah ke tingkat atas, lumayan, guncangannya gak sekenceng di bawah, lalu tidur, supaya gak mual. Nyampe di Pulau Kelapa, gue seger. Gue bantu pindahin alat-alat ke tempat yang teduh.

Sambil nunggu kapal ojek yang akan mengangkut kami ke Pulau Kelapa Dua, Pulau dimana mess gue bakal tinggal. Kami jalan-jalan dulu mencari secuil jajanan. Tapi hey alangkah jauhnya dramaga ke tempat jajanan. Jadi gue dengan beberapa temen gue gak ikut sampe jauh ke sana, Cuma setengah jalan, tapi lumayan nemuin es-es-an dan gorengan. Kapal kecil sewaan kami pun datang, kami naik, dan kami membelah gelombang menuju pulau tujuan.
Sampai di sana, gue kaget. Sekaya Maritim, tempat kami tinggal, tidak ada isinya, maksudnya barang-barangnya. Gue yang gak punya dan gak bawa sleeping bag, khawatir sakit badan selama seminggu lebih. Tapi syukurnya, mess cewek di belakang rumah ini. Rumah biasa, dengan fasilitas ac dan ada tempat tidurnya. Tapi sayangnya di kemudian hari sang ketuplak melarang kami menggunakan ac demi menghemat, huff. Lalu apa gue nurut? Biar paguyuban kamar beban yang menjawab.

Kamar gue itu kamar beban. Tiap pagi selalu jadi yang paling terakhir ngumpul, yang paling dicari-cari tiap pagi. Tapi jangan salah, tiap mau evaluasi malam, kami selalu cepat. Tau kenapa? Karena lapar yang mengharuskan kami datang lebih cepat, haha. Kamar gue kebetulan isinya 4 manusia. Gue, Rita, Chobil, dan Ala.

Singkatnya, H-1 itu isinya cuma perjalanan pergi. Kita sampe siang jam 2an. Sisanya kosong gak ngapa-ngapain. Istirahat lebih tepatnya untuk malamnya briefing terkait pengambilan data esok hari.

Udah, sampe sini dulu ya, karena percaya gak percaya gue hampir mengetik 1000 kata. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, bye!

Tuesday, 27 June 2017

Rindu by Tere Liye


Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal: 544 halaman
Terbit: September 2014

"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”
Rindu- Tere Liye. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. 
Selamat membaca.

***

Sedikit curhat sebelum masuk ke resensi buku. Awalnya saya malas membaca buku ini, kenapa? Buku ini saya dapatkan dari hasil barter buku Seraphina karya Racel Hartman. Ketika buku Rindu ini sampai, saya kecewa, kertasnya dari kertas koran bahkan print tulisannya miring, terlihat palsu atau memang palsu. Sebal. Saya tukar Seraphina yang bukunya mulus dan asli. Eh, yang datang begini. Hampir satu tahun buku ini saya diamkan. Akhirnya tanggal 19 Juni 2017, karena buku lain yang belum saya baca ketinggalan di kost. Alhasil saya baca buku Rindu ini yang paling menarik diantara buku yang belum dibaca lainnya yang ada di rumah. Dua hari tamat menandakan kemenarikan bukunya.
*

Buku ini bercerita tentang beberapa orang yang memiliki pertanyaan untuk dijawab saat perjalanan haji. Ada wanita yang menyimpan masa lalu kelam. Ada lelaki yang orang lain kira hidupnya penuh kebahagiaan. Ada kakek tua yang sangat mencintai istrinya. Ada pemuda yang terpaksa kabur dari cintanya. Lalu ada tokoh besar yang arif dan menunggu diyakinkan. 

Well, nama tidak disebut mengingat takut spoiler. But as long as you read, you will guess it correctly whom they are.
*

Selalu terhenyak saat membaca buku om tere liye, rasanya adem om. Apalagi setelah tau latar belakangnya zaman dulu, saya suka krn mengkaitkan orang2 zaman dulu. Saya paling malas baca sejarah tapi kalo disuguhkan dalam bentuk novel saya suka.

Saya tahu, kalo dulu perjalanan haji itu memakan waktu lama. Tapi saya blm pernah merenungkan perjalanan dgn kejadian apa saja yg terjadi saat itu. Dan disini tergambarkan. Beruntung ada gurutta di perjalanan haji yg memikirkan penumpangnya agar ada majelis ilmu, sekolah dan pengajian utk anak2, dll. Lalu yg paling saya suka adalah: sebulan di laut. Karena sebulan itu mereka menemukan sekelompok lumba2, pasangan paus, gerombolan ikan terbang, dan pasukan burung falcon. Akan sangat beruntung jika saya melihatnya. 

Tapi perjalanan haji sekarang sebentar. Naik pesawat lebih cepat. Tak ada cengkrama dengan jemaah haji lainnya. Tak ada perkumpulan untuk mengkuatkan ilmu mengenai ibadah haji. Bahkan durasi di tanah suci pun tidak lama. Oh, betapa beruntungnya jemaah haji zaman dulu.

Beralih ke novel, terdapat sedikit kurang mengenakan saat membaca, yakni 
1. beberapa kalimat diulang, dan itu sama persis. Harusnya dikasih tau perkembangan atau ada bedanya lah. Beberapa memang sudah dikembangkan tapi beberapa ini sama persis. Saya tahu rutinitas mereka sama setiap hari tapi ber perbedaan lah walaupun sedikit.

2. Sudah setengah terbaca, tapi jadi agak malas baca bagian detail kapalnya. Mungkin krn rutinitasnya sama dan penggunaan kalimat yg mirip 2 sehingga bosan. Masih nyambung dgn nomor 1 sih

Sudah itu saja, selebihnya bagus. Jawaban untuk setiap pertanyaan dipaparkan dengan baik.

Btw ngomong2 blitar holland. Kapal ini agak mengusik sifat environmentalis saya. Kapal mesin uap ini memang bagus, tapi berpolusi.  Kenapa tidak pakai layar saja sih? Walaupun dibutuhkan SDM lebih banyak, itu tidak masalah dibanding keluar polusi akibat pembakaran batubara. Saya suka Ambo Uleng yang inisiatif menjalankan kapal dengan layar gara2 mesin rusak. Terlihat sekali pelaut sejatinya.