Wednesday, 18 October 2017

EKSPEDISI HIMITEKA IV (Pulau Melintang Kecil, hp yang hilang, dan Pulau Tongkeng)

Halo semua, inilah harinya. Hari apa? Baca sampai akhir ya! Sebelumnya kalian harus baca hari keberangkatan dan hari pertama ekspedisi, klik klik.
Pict by Darin
Tanggal 28 Agustus 2017 kami berngkat ke Pulau Melintang Kecil. Berhubung Bale kebagian sosek di Pulau Kelapa, jadi yang izin simaksi Dayat ditemani gue. Setelah dibolehkan semua tim bekerja seperti hari sebelumnya. Bedanya gue kebagian garis pantai. Setelah berdoa dan bertos-ria, gue bareng Dwi mengelilingi pulau, tracking dan point. Pulaunya kecil jadi Cuma butuh waktu sedikit juga. Habis itu, karena gak mau gabut. Kami bantuin tim pemetaan yang bentik. Itu hari pertama gue nyemplung air. Hari itu, ombaknya lumayan besar dan pulau ini banyak bulu-babinya.
Pict by Darin
Ngomong-ngomong bulu babi, kami sempat memakannya loh! Jadi, Reki yang ambilin bulu babi ke pinggir pantai, terus Rizal yang mukul-mukulin bulu babi plus ngebelahnya, terus dimakan deh. Gue cuma nyicip secuil karena amis. Rasanya mirip daging udang tapi masih lebih enak udang, haha. Mau lagi? Hmm tidak, seenggaknya gue udah pernah nyoba bulu-babi, yeay!
Pict by Darin. In frame: Uti-Dinda-Dwi
Niatnya gue mau bantu anak bentik, tapi berhubung outfit gue terjadi sesuatu. Hmm, gini, gue kebetulan pake legging biasa, bukan legging renang. So, begitu gue duduk di tangga menuju laut. Kebetulan batunya itu tidak mulus alias bergerinjul, menyebabkan celana gue yang rapuh ini robek, duh! Alhasil gue gak jadi bantuin anak bentik.
Pict by Ala. In frame: Uti-Ain
Akhirnya gue foto-foto aja, bersantai, tiduran. Di pulau ini banyak tempat duduk yang biasa orang berjemur itu loh, gue tidur disitu, enak, adem, anginnya mendukung. Terus pas Ala ajak gue foto-foto pake hp orang, gue tinggal lah tas dan hp gue. Lalu menuju spot foto terbaik. Tak lama, teman yang lain menyuruh pulang. Berhubung temen gue udah ada yang bawain tas gue, gue terima dan kami pulang.
Pict by Igan. In frame: Uti-Ain-Dinda-Ati-Dwi
Dan yang bikin sedih adalah, setelah gue turun dari kapal, gue nyariin hp gue, di kantong jaket gak ada, di tas juga gak ada. Hp gue ilang. Ilang. Ilang coy! Ilang beneran. Mencoba untuk menganggap keselip, gue ke warung dulu buat jajan, beli mie. Pulangnya gue cari lagi hp gue. Hasilnya? Nihil. Hp gue beneran gak ada, mungkin ketinggalan di pulau. Gue telpon nyambung, tapi gak ada yang angkat.
Malamnya, Deden nanyain gue terkait hp. Terus kami minta bantu Pak Putra buat ngehubungi orang pulau Melintang supaya nyariin hp gue di lokasi ketinggalan. Gue mencoba  yakin hp gue ada di Pulau Melintang Kecil.

Besoknya, 29 Agustus 2017, tujuan kami Pulau tongkeng. Namun, berhubung lokasi Pulau tongkeng dan Pulau Melintang berdekatan alias bersebrangan. Kami ke Pulau melintang dulu, mencari hp. Gue, Ain, Reki, Deden, dan Pak Putra turun untuk nyari hp. Tapi hasilnya gak ada. Orang pulau juga bilang mereka udah cari dari jam 8 sampai jam 11 malam tapi hasilnya gak ada. Gue telpon juga percuma, tuh baterai tinggal sedikit terakhir gue liat jadi pasti sekarang udah mati, udah masuk voice mail. Gue sedih, mencoba ikhlas.
peta buatan Yustie!
Akhirnya kita lanjut ke Pulau Tongkeng. Gue mengalihkan pikiran gue dari hp. Gue ambil garis pantai lagi bareng Dwi. Setelah selesai, Dwi nawarin gue buat nelpon nyokap. Gue gak hafal nomor nyokap karena dia sempat ganti nomor. Gue gak hafal nomor baru. Jadi gue nelpon kakak pertama gue. Cuma nomor dia yang gue hafal. Dia lagi di Rumah Sakit. Tepatnya kemarin kakak gue ini melahirkan, anaknya cewek. Dia di rumah sakit sama suaminya. Gue minta nomor nyokap. Setelah dikasih, gue hubungi nomor nyokap. Tapi gak diangkat. Duh, kebiasaan nomor gak dikenal gak pernah diangkat. Yaudah, nanti gue coba lagi aja.

Di Tongkeng, paginya gue tracking garis pantai, gue ketemu anak-anak lain yang ambil data lain di tiap-tiap bagian pulau. Ada yang ambil kemiringan pantai, ada yang ambil data mangrove, ada yang ambil data lamun, dan tak lupa mereka yang ambil data bentik.
pict by Nabilla
Pulau Tongkeng ini dulunya pulau wisata. Namun, katanya pulau ini sudah jarang didatangi. Sekitar 10 tahun terakhir sudah tidak ada pengunjung. Penginapan-penginapan pun dirobohkan. Tapi yang gue suka, di sini airnya tawar. Waktu gue sholat dzuhur, tempat sholatnya itu semacam pendopo kecil gitu. Gue liat ke samping kanan, tembus laut, gue liat ke samping kiri juga tembus laut. Saking kecilnya pulau ini. Lo di tengah-tengah aja masih bisa ngeliat laut. Gue suka, di sini air lautnya juga jernih. Gue duduk-duduk di deket dermaga kan, dan di bawahnya itu jelas banget banyak ikan-ikan kecil menggerombol. Rasanya pengen berenang di situ. Cantik banget.
pict by Darin
 Setelah selesai sambil nunggu yang lain kumpul, gue foto-foto. Di sini Darin dan Ain nemuin ransum. Itu sejenis biskuit buat orang terdampar. Lo pernah nonton “Life of Pi”? Di sana, tokoh utama makan biskuit tiap enam jam. Nah, itu dia yang ditemuin di sekitar mangrove. Kebetulan anak hidrobio juga nemu katanya di laut. Biskuitnya tuh dikemas kedap udara. Tujuannya supaya awet, kalo kena air gak akan rembes atau liat. Pas gue coba, rasanya kayak kue tingting gitu, tapi teksturnya lebih keras. Gue suka tapi gak doyan. Lucu sih, expirednya sekitar beberapa bulan lagi, mungkin sengaja dibuang(?).
Siangnya, setelah semua makan siang. Anak pemetaan balik lagi ke Pulau Melintang Kecil karena ada beberapa wilayah bentik di sana yang belum tercover. Gue nggak bantu ambil data bentik karena kebetulan data yang gua ambil di Melintang kemarin kan ikutan hilang bersama hp gue, jadi gue ngulang ambil data garis pantai ditemani Ain. Setelah selesai mengambil data, kita balik lagi ke dermaga Pulau Melintang, menunggu dijemput kapal tim hidrobio. Sumber air di Pulau Melintang itu tawar dan melimpah, gue suka. Jadi gue langsung bilas booties gue pas mau pulang. Daripada nanti di mess, airnya payau, euh!
pict by Ala. In frame: Uti-Ain
Akhirnya kami pulang ke Pulau Kelapa Dua. Setelah mandi, gue langsung ke Dwi untuk minjem hpnya. Gue ngehubungi nyokap lagi. Beliau angkat telponnya. Dan begitulah gue cerita. Gak banyak yang gue ceritain, tapi di situ gue nangis. Nyokap gue gak marah, tapi gue kok malah jadi makin sedih?

Udah ah, jangan sedih, sampai jumpa cerit selanjutnya!

Tuesday, 10 October 2017

EKSPEDISI HIMITEKA IV (Pulau Jukung dan Ikan Pari-nya)

Halo semua, welcome back! Buat kalian yang belum baca gimana kejadian gue berangkat ke sini silakan cek website ini, klik ini.
peta buatan yustie!
Jadi hari itu tanggal 27 Agustus 2017. Hari pertama pengambilan data dan tujuan utama kita adalah Pulau Jukung. Pulau Jukung merupakan Pulau yang terletak paling utara dibandingkan dengan Pulau-Pulau lain yang akan kami datangi. Kami dibagi menjadi 4 tim. Tim Oseanografi, tim Hidrobio, Tim Akustik, dan Tim Pemetaan. Gue gak bakal cerita banyak tentang semua tim kecuali tim pemetaan karena gue berada di sana, hehe.

Berhubung tim Oseanografi alatnya belum sampe (alatnya masih dipakai penelitian di Probolinggo), akhirnya tugas mereka cukup sederhana, hanya di sekitar pulau untuk mengambil data kemiringan pantai menggunakan teodolit, tipe pantai, dan lebar pantai, serta sosek (sosial-ekonomi) di Pulau Jukung. Tim Akustik juga belum kerja apapun, so, 3 dari mereka ditarik untuk membantu anak pemetaan yang kekurangan orang sebab masih PIMNAS. Sisanya sosek di Pulau Kelapa Dua. (Oh ya, selamat kalian yang juara 2 pimnas!)
capt by Nabilla
Tim Hidrobio dan tim pemetaan sudah mulai bekerja. Kedua tim ini yang nyemplung ke air laut, yang waktu pulang paling hitam dibandingkan tim lainnya. Sedihnya, gue salah satunya, huff. Tim Hidrobio itu kebagi 3, ada anak mangrove, anak lamun, dan anak Terumbu Karang. Nah, anak Terumbu Karang ini kebagi lagi, ada yang iden (identifikasi) karang dan ada yang iden ikan. Sedangkan tim pemeteaan juga dibagi 3, ada infrastruktur, ada garis pantai, dan ada bentik (yang nyebmplung air sih cuma yang kebagian ambil data bentik). Kebetulan, di Pulau Jukung gue kebagian infrastruktur bareng Darin.

Kita berangkat menggunakan 2 kapal, kapal 1 harus memuat anak Hidrobio yang harus ke Pulau Harapan dulu ngambil tabung, karena mereka akan scuba diving. Gue masuk di kapal 2 yang isinya anak ose dan pemetaan dan sedikit anak akustik yang bantu anak pemetaan, langsung ke pulau tujuan. Kami sampai di sana pukul 8 pagi kalau tidak salah. Sang ketuplak bersama Pak Putra (beliau orang pulau Kelapa, narahubung kami minjem kapal, ngehubungi orang pulau, ngurusin kambing, loh! Ngurusin hp gue yang hilang, nah!), mereka izin ke orang pulau dulu dengan menunjukkan simaksi. Setelah diizinkan, kami pun menyebar.
video
video dari instagram
Gue sebagai anak infrastruktur yang didarat bertemu 2 orang yang tinggal disana. Mereka bilang, mereka hanya tinggal berempat di pulau itu. Wah, bayangkan sama kalian betapa sepinya di sana.
Jadi, kami diceritakan bahwa dulunya pulau ini ramai, sekitar 150 orang bekerja di sini. Loh kerja apa? Jadi dulu, tahun 1984 berdiri perusahaan budi daya ikan, tapi sayangnya bangkrut tahun 2014 lalu. Waktu gue berkeliling, kebetulan kami di tour guide sama mereka, beruntungnya. Kami menemukan kolam fiber besar-besar, banyak lagi, belum lagi alat-alat yang disebutkan bapaknya. Rasanya sayang banget, kolam-kolam beserta mesin pendukungnya harus tidak berfungsi lagi. Bayangkan betapa mahalnya harga yang dipertaruhkan untuk membuat semua ini dan akhirnya sekarang tinggal bangkai. Kolam sih masih bagus, masih bisa digunakan jika dan hanya jika industri ini kembali beroperaasi, cuma mesinnya itu loh, sayang banget, karatan, menguning, jadi rongsok.
capt by darin
Di sana juga ada laboratorium, gue masuk ke dalamnya. Ada dua buah mikroskop, autoclaf, tabung-tabung erlenmeyer yang jumlahnya banyak, belum lagi cairan-cairan kimia yang menurut dugaan gue bisa aja masih ada isinya sebagian!  dan masih banyak lagi alat yang mungkin gue gak sebut.

Gue sangat menyayangkan kebangkrutan suatu industri. Selain barang-barang yang ditinggal menjadi terbengkalai merongsok, para pekerja pun terpaksa harus diberhentikan. Mereka akhirnya menjadi pengangguran, padahal mungkin saja mereka punya sanak saudara yang harus dibiayai. Tapi gue juga kesel sama mereka yang mengelolanya, harusnya pengelolaannya bagus, pemasarannya oke, biar perusahaannya terus berlanjut, dan bukannya bangkrut. Tapi berhubung sudah terjadi, yaudalah, mungkin memang takdir industri tersebut, takdir para pekerja, mau gak mau harus diterima.

Sekitar jam 10-11 kami kembali ke dermaga karena sudah selesai mengambil data infrastruktur. Mereka yang ambil data garis pantai juga udah ada. Kami istirahat sambil makan keripik pisang dan kelapa muda yang baru diambil dan dibelah sama Pak Putra. Enak banget air kelapanya, segar. Sambil menikmati angin, tiba-tiba Dwi dapet telepon. Katanya, si ketuplak kami, Bale, terluka. Kotak P3K ada di dermaga, sedangkan Bale posisinya entah di bagian mana pulau. Katanya kakinya berlubang, infonya masih gak jelas.
capt by darin
Tak lama, Deden datang. Dia bilang kaki Bale kena ikan pari. Dia berniat ambil kotak P3K. Yaudah dikasihlah. Terus Deden pergi setelah mencicip air kelapa dan makan sedikit keripik pisang. Tak lama kemudian, Bale datang sama partner ambil datanya. Dia terpincang-pincang. Gue udah ngebayangi berlubang itu artinya bolong, seperti lubang yang bisa dipakai mengintip. Tapi ternyata hanya cekungan berlubang. Lumayan, jika di font calibri, buatlah tanda titik ukuran 48.

Katanya, setelah menakut-nakuti partnernya, Bale kena karma dengan terkena ekor ikan pari totol-totol biru. Dia langsung teriak. Darah keluar seperti air mancur dari bawah, blup blup suaranya katanya. Sampai di dermaga darahnya sudah tidak mengalir. Melihat dia kesakitan, kami tetap tega menertawakannya, tapi juga membantunya. Pak Putra juga ikut membantu mengobati.

Pulau Jukung ini memang banyak ikan parinya. Penanganan saat terkena ikan pari? Keluarkan darahnya. Pertama kami kasih bersihkan pake air kelapa (berhubung itu air yang paling dekat), lalu dikasih kapas yang sudah dibasahi alhohol. Setelah itu diikat kakinya, supaya racunnya tidak menyebar. Pak Putra cari remis sejenis kerang, lalu ditempelkan di lubang tadi, supaya racunnya dihisap remis katanya. Terus agak lama diganti jadi jeruk nipis, airnya dikucurkan ke lubang, lalu ditempeli jeruk nipis.

Bale kesakitan. Berhubung beberapa pengambilan data sudah selesai. Bale diantar pulang untuk ke puskesmas mengobati lukanya. Dia sempat keluar darah lagi sebab dia berlari. Lari-larian untuk meredakan linu dan mengalihkan pikiran dari sakit.

Bale pulang, gue ambil data infrastruktur lagi, soalnya yang awal salah, Jeger! (ceritanya suara petir). Setelah itu, kami menunggu yang lain selesai mengambil data. Semakin sore anginnya semakin kencang, gue tidur di pos deket dermaga supaya hangat. Setelah tim hidrobio selesai, barulah kami dijemput dengan kapalnya untuk pulang. Pulang ke Pulau Harapan dulu untuk mengembalikan tabung. Sambil gue jajan cilok dan jajanan lainnya. Di Kelapa Dua gak ada jajanan gerobak. Habis itu baru pulang ke Kelapa Dua. Ngantri mandi, makan, eval, dan tidur.

Sampai jumpa di hari ekspedisi selanjutnya!

Friday, 22 September 2017

EKSPEDISI HIMITEKA IV (Keberangkatan ke Pulau Kelapa Dua)

Halo semua, kali ini gue mau cerita tentang perjalanan ekspedisi gue selama 9 hari. Produktifnya cuma 7 hari sih, sisanya perjalanan pergi dan pulang. Perjalanan dan pengalaman yang bikin kulit gue eksotis banget, pake banget, hp gue hilang, dan apalagi ya? haha. Total semua yang berangkat ada 41 manusia tapi 5 manusia diantaranya menyusul pas hari ke-4 karena 3 anak lagi PIMNAS PKM dan 2 asisten ahli yang menyusul membantu pengambilan data.
Hari itu tanggal 25 Agustus 2017 kasusnya gue lagi temu kangen sama Reva karena semenjak KKN dan libur gue belum ketemu lagi. So, kami ke Recheese Dramaga yang baru buka (berhubung masih diskon 50%) lanjut ke kostan Reva yang baru sebab gue belum pernah ke sana. Kami berlarut-larut-ria menghabiskan waktu hingga magrib karena rencana awalnya jam 7 malam ratek, pulang ke kostan, packing, terus kumpul lagi jam 12 malam untuk briefing keberangkatan. BUT, tiba-tiba disuruh kumpul jam 8 malam dengan kondisi sudah packing dan siap berangkat.

Alhasil, gue yang jam 7 baru kelar makan langsung packing kilat, mandi, dan caw jam setengah 9 malam dianter Reva kusayang. Reva gak ikut, dia mau pulang ke Medan, huaaa L. Nyebelinnya, di sana baru sedikit orang, huff, tapi gapapa daripada pergi lebih malam tapi gak dianter Reva. Soalnya begini loh, jarak kostan gue dan tempat kumpul (Sekret Himiteka, Gedung FPIK) itu jauhnya lumayan. Lo tau IPB Dramaga luas kan? Nah, lu musti jalan dari ujung ke ujung kampus! Yeah, begitulah nasibnya fakultas kami yang letaknya jauh dari garis depan.

Singkat cerita, gue sampe kampus, melihat bawaan mereka. Ada yang pake carier, ada yang bawa tas gendong gede plus goodie bag, ada yang bawa koper kecil (anak-anak bilangnya tas drone, wkwk). Sedangkan gue bawa 3 tas, tas merah gue yang biasa (isi laptop, alat sholat, make up, dompet, makanan), tas jinjing hitam gue yang ukurannya lumayan (isi baju, booties, makanan), dan tas ADS gue (masker, snorkel, fins, makanan). Hahaha isi semua tas gue selalu ada makanan.

Bosan menunggu, kami ngobrol, jajan, ngemil, lalu tidur, hingga pukul 2 dini hari tanggal 26 Agustus bus datang. Kami pun memasuki alat-alat terlebih dahulu dikomandokan para logstraner.Setelah itu kami memasuki diri kami sendiri ke bus. Tapi sebelumnya kami sempat briefing berdoa demi kelancaran ekspedisi. Kami berangkat jam 3 dini hari. Semua orang tidur di bus. Pukul 4 lewat 30 menit kami sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa. Itu pertama kalinya gue disitu, dan ternyata Sunda Kelapa ini dipenuhi banyak balok-balok yang biasanya di belakang truk. Lo tau kan maksud gue? Gue gatau namanya, hehe. Tiba-tiba keinget film Step Up yang dance-dance gitu, haha.
Kami naik kapal Sabuk Nusantara. Fyi, kapal ini berangkat dari Sunda Kelapa-P.Untung Jawa-P.Pramuka-P.Harapan-P.Kelapa tiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu serta balik lagi dengan rute kebalikannya yaitu hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Gue rekomen buat yang mau ke Kepulauan Seribu mending naik ini aja, walaupun waktu perjalanannya lebih lama, tapi untungnya lebih banyak. Tarifnya cuma 15ribu, beda kalo lo naik kapal ojek biasa yang kalo ke Kelapa bisa sampe 45-55ribu. Terus, di sini juga ada tempat tidurnya gitu, cepet-cepetan sih, tapi gue selalu dapet jadi enak gue tidur hampir di sepanjang perjalanan.

Kami sampe ke Sunda Kelapa itu kepagian coy. Kapalnya masih sepi. Dermaganya juga masih sepi. Terus baru terdengar adzan, tapi bingung mau sholat ke mana. Untungnya gue sedang berhalangan, hehe. Akhirnya kami sarapan dulu yang sebelumnya sudah disiapkan anak konsumsi. Lauknya ayam sama orek tempe. Seret banget, gak ada sayur, gue susah nelen. Lalu muncul abang-abang kapal, kami bilanglah numpang sholat, terus masukin muatan, bayar, dan nunggu kapal berangkat.

Kapal berangkat jam 8 pagi. Berhubung menunggu lama, kami yang pada dasarnya berjiwa narsis akhirnya memutuskan untuk berfoto-ria, mengelilingi kapal, berebut tempat tidur, liatin sang nahkoda yang kebetulan ganteng, dan lain-lain. Ketika kapal mulai berangkat, gue kembali ke dek bawah untuk ngobrol bentar lalu tidur. Bangun-bangun di Pulau Pramuka. Gue sengaja bangun karena katanya bisa jajan telor gulung. Tapi pas keluar, ternyata tukang dagangnya jauh dari kapal, dan karena takut ketinggalan kapal, gue akhirnya minta satu tusuk aja ke temen gue, hehe.

Kapal melanjutkan perjalanan, gue agak lama diem di pinggiran kapal, liatin pemandangan yang cerah, laut yang biru, angin yang semilir menyejukkan. Cukup puas gue balik ke dek bawah, ngobrol bentar, lalu tiba-tiba pusing. Sementara ketuplak ekspedisi gue juga sudah pusing duluan, gue ikutan pusing. Gue tiduran di tempat tidur tingkat bawah, tapi kok guncangannya tetep kenceng ya? Dengan pura-pura biasa aja, lantas gue pindah ke tingkat atas, lumayan, guncangannya gak sekenceng di bawah, lalu tidur, supaya gak mual. Nyampe di Pulau Kelapa, gue seger. Gue bantu pindahin alat-alat ke tempat yang teduh.

Sambil nunggu kapal ojek yang akan mengangkut kami ke Pulau Kelapa Dua, Pulau dimana mess gue bakal tinggal. Kami jalan-jalan dulu mencari secuil jajanan. Tapi hey alangkah jauhnya dramaga ke tempat jajanan. Jadi gue dengan beberapa temen gue gak ikut sampe jauh ke sana, Cuma setengah jalan, tapi lumayan nemuin es-es-an dan gorengan. Kapal kecil sewaan kami pun datang, kami naik, dan kami membelah gelombang menuju pulau tujuan.
Sampai di sana, gue kaget. Sekaya Maritim, tempat kami tinggal, tidak ada isinya, maksudnya barang-barangnya. Gue yang gak punya dan gak bawa sleeping bag, khawatir sakit badan selama seminggu lebih. Tapi syukurnya, mess cewek di belakang rumah ini. Rumah biasa, dengan fasilitas ac dan ada tempat tidurnya. Tapi sayangnya di kemudian hari sang ketuplak melarang kami menggunakan ac demi menghemat, huff. Lalu apa gue nurut? Biar paguyuban kamar beban yang menjawab.

Kamar gue itu kamar beban. Tiap pagi selalu jadi yang paling terakhir ngumpul, yang paling dicari-cari tiap pagi. Tapi jangan salah, tiap mau evaluasi malam, kami selalu cepat. Tau kenapa? Karena lapar yang mengharuskan kami datang lebih cepat, haha. Kamar gue kebetulan isinya 4 manusia. Gue, Rita, Chobil, dan Ala.

Singkatnya, H-1 itu isinya cuma perjalanan pergi. Kita sampe siang jam 2an. Sisanya kosong gak ngapa-ngapain. Istirahat lebih tepatnya untuk malamnya briefing terkait pengambilan data esok hari.

Udah, sampe sini dulu ya, karena percaya gak percaya gue hampir mengetik 1000 kata. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, bye!

Tuesday, 27 June 2017

Rindu by Tere Liye


Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal: 544 halaman
Terbit: September 2014

"Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”
Rindu- Tere Liye. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. 
Selamat membaca.

***

Sedikit curhat sebelum masuk ke resensi buku. Awalnya saya malas membaca buku ini, kenapa? Buku ini saya dapatkan dari hasil barter buku Seraphina karya Racel Hartman. Ketika buku Rindu ini sampai, saya kecewa, kertasnya dari kertas koran bahkan print tulisannya miring, terlihat palsu atau memang palsu. Sebal. Saya tukar Seraphina yang bukunya mulus dan asli. Eh, yang datang begini. Hampir satu tahun buku ini saya diamkan. Akhirnya tanggal 19 Juni 2017, karena buku lain yang belum saya baca ketinggalan di kost. Alhasil saya baca buku Rindu ini yang paling menarik diantara buku yang belum dibaca lainnya yang ada di rumah. Dua hari tamat menandakan kemenarikan bukunya.
*

Buku ini bercerita tentang beberapa orang yang memiliki pertanyaan untuk dijawab saat perjalanan haji. Ada wanita yang menyimpan masa lalu kelam. Ada lelaki yang orang lain kira hidupnya penuh kebahagiaan. Ada kakek tua yang sangat mencintai istrinya. Ada pemuda yang terpaksa kabur dari cintanya. Lalu ada tokoh besar yang arif dan menunggu diyakinkan. 

Well, nama tidak disebut mengingat takut spoiler. But as long as you read, you will guess it correctly whom they are.
*

Selalu terhenyak saat membaca buku om tere liye, rasanya adem om. Apalagi setelah tau latar belakangnya zaman dulu, saya suka krn mengkaitkan orang2 zaman dulu. Saya paling malas baca sejarah tapi kalo disuguhkan dalam bentuk novel saya suka.

Saya tahu, kalo dulu perjalanan haji itu memakan waktu lama. Tapi saya blm pernah merenungkan perjalanan dgn kejadian apa saja yg terjadi saat itu. Dan disini tergambarkan. Beruntung ada gurutta di perjalanan haji yg memikirkan penumpangnya agar ada majelis ilmu, sekolah dan pengajian utk anak2, dll. Lalu yg paling saya suka adalah: sebulan di laut. Karena sebulan itu mereka menemukan sekelompok lumba2, pasangan paus, gerombolan ikan terbang, dan pasukan burung falcon. Akan sangat beruntung jika saya melihatnya. 

Tapi perjalanan haji sekarang sebentar. Naik pesawat lebih cepat. Tak ada cengkrama dengan jemaah haji lainnya. Tak ada perkumpulan untuk mengkuatkan ilmu mengenai ibadah haji. Bahkan durasi di tanah suci pun tidak lama. Oh, betapa beruntungnya jemaah haji zaman dulu.

Beralih ke novel, terdapat sedikit kurang mengenakan saat membaca, yakni 
1. beberapa kalimat diulang, dan itu sama persis. Harusnya dikasih tau perkembangan atau ada bedanya lah. Beberapa memang sudah dikembangkan tapi beberapa ini sama persis. Saya tahu rutinitas mereka sama setiap hari tapi ber perbedaan lah walaupun sedikit.

2. Sudah setengah terbaca, tapi jadi agak malas baca bagian detail kapalnya. Mungkin krn rutinitasnya sama dan penggunaan kalimat yg mirip 2 sehingga bosan. Masih nyambung dgn nomor 1 sih

Sudah itu saja, selebihnya bagus. Jawaban untuk setiap pertanyaan dipaparkan dengan baik.

Btw ngomong2 blitar holland. Kapal ini agak mengusik sifat environmentalis saya. Kapal mesin uap ini memang bagus, tapi berpolusi.  Kenapa tidak pakai layar saja sih? Walaupun dibutuhkan SDM lebih banyak, itu tidak masalah dibanding keluar polusi akibat pembakaran batubara. Saya suka Ambo Uleng yang inisiatif menjalankan kapal dengan layar gara2 mesin rusak. Terlihat sekali pelaut sejatinya.

Tuesday, 24 January 2017

Oseanografi, Hidrobiologi, Inderaja & SIG Kelautan, atau Akustik & Insrumentasi Kelautan

Selamat datang semester enam!

Waw udah tingkat tiga aja. Gak kerasa, udah dua setengah tahun mengabdi belajar di Institut Pertanian Bogor (IPB), terkhusus di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK). Tahun 2017 ini, kurikulumnya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni adanya peminatan. Mau pilih Ilmu Kelautan (IKL) atau Teknologi Kelautan (TKL)? kalau dulu, semuanya dilahap, gak ada pisah-pisah begini, hmm.
Well, sebenarnya ini bagus untuk orang-orang yang sudah yakin-pasti-teguh-minat ke antara dua pilihan itu karena akan lebih terarah kedepannya. Kayak temen gua yang minat Penginderaan Jarak Jauh udah pasti masuk TKL, atau temen gua satunya lagi yang dari awal masuk udah minat Hidrobiologi maka pasti masuk IKL, atau temen gua yang dulunya bingung tapi setelah mengecap kenikmatan Oseanografi Fisik sekarang mantap pilih IKL. But how about me? Ngambang.

Sebelum adanya penjurusan, mahasiswa ITK telah dibekali mata kuliah dasar dari ilmu dan tekno tersebut, misalnya untuk Ilmu
  1. Oseanografi Umum
  2. Biologi Laut
  3. Bioprospeksi Keluatan
  4. Oseanografi Fisik
  5. Oseanografi Kimia
  6. Dasar-dasar Solusi Analitik Gerak di Laut
  7. Hidrodinamika
 dan teknologi kelautan
  1. Dasar-dasar Instrumentasi Kelautan
  2. Dasar-dasar Akustik Kelautan
  3. Dasar-dasar Pengindaraan Jauh kelautan 
  4. Instrumentasi Kelautan
  5. Akustik Kelautan
  6. Pemrosesan Citra
dan mata kuliah pendukung lainnya, kayak Metode Statistika, Meteorologi dan lainnya (kebanyakan).
 
 Jadi gini, masig-masing peminatan itu ada dua laboratorium
IKL: Oseanografi dan Hidrobiologi.
TKL:Akustik & Instrumentasi Kelautan dan  Inderaja & SIG Kelautan 
         (biar singkat bilang AIK dan PJK aja ya? Oke). 
Kalau sepemahaman gua, gua belum konsultasi sama dosen. Ini cuma prediksi dari hasil-belajar-mata-kuliah-yang-udah-pernah-gua-dapetin dan melihat-judul-nama-mata-kuliah-baru-di-IKL-TKL yang dibumbui otak imajinasi gua aja.  
Hidrobiologi itu lebih belajar ke makhluk hidupnya, kayak biologi, biogeografi, atau bioprospeksi. contoh hewan karang ternyata bisa dijadikan bahan antikanker loh, atau persebaran mangrove/lamun dengan kerapatan dan keanekaragamanya, atau peran/asosiasi mamalia laut terhadap lingkungannya (dugong sudah jarang ditemukan di seagrass!), atau penyu laut si lemak numpuk tertipu makan mikroplastik :(
Oseanografi lebih ke analisis dan komputasi serta pemodelan. btw, ose sendiri banyak cabangnya, dari ose-fisik, ose-kimia, ose-bio-geologi, ose-lingkungan, dan ose-perikanan. too many ose. tapi yang pasti yang dipelajari adalah dinamika laut itu sendiri, yang nantinya dijadikan pemodelan dimana kalian bisa jadi cenayang (katanya), you will know pergerakan massa air di waktu yang bbeelluumm terjadi, misal besok atau tahun depan gitu. disini kalian bakal bertemu rumus dari banyak orang hebat serta program yang bahasanya aduhay.
Akustik dan Instumentasi Kelautan, hmm, akustik bercerita tentang apa yang dilihatnya dari pantulan suara yang dipancarkan ke laut. bisa ikan, lamun, dasar laut, minyak bumi atau apapun itu dengan alat canggihnya, Echosounder, Sonar, EP-500dan lain sebagainya kemudian hasilnya dapat dilihat dan diproses oleh software echoview, EK-500, Sonar 5 Pro, Bathy2010, Visual Acquisition dan lain-lain. Terus Instrumentasi Kelautan mengenalkan kita akan peralatan yang membantu dalam pengambilan data laut, bisa mooring  buoy,  remote  operating  vehicle (ROV), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), dan masih banyak lagi, tanpa melupakan analisis numerik, sinyal, transformasi, filter dan bahasa aneh lainnya (baca:program).
Inderaja & SIG Kelautan intinya pemetaan hasil penginderaan jauh! dan gak jauh-jauh dari yang namanya satelit, mulai dari landsat, NOAA, SPOT, IKONOS dan masih banyak lagi! Yang kalau mau hasil data citra yang bagus, kalian harus punya banyak duit buat beli citra itu, atau kalian harus bekerja sama dengan pihak yang bersangkutan biar dapet gratis. Keren bro! mainannya cuma ngedit hasil citra jadi peta yang lebih bisa dipahami, bekualitas baik, dan terpercaya keakuratannya! kalian mau liat persebaran klorofil pada bulan sekian banyak dimana? bisa. tracking penyu laut? bisa. daerah penangkapan ikan terbaik? bisa. anomali suhu laut pun bisa diketahui!

Kalau disuruh milih, gua lebih suka Oseanografi dan PJK. Gua suka Oseanografi karena disana membahas perubahan iklim, suhu muka laut, blue carbon, dan lainnya, yang walaupun pusing membingungkan tapi tetap menarik karena emang dasaar gua dulunya pengen teknik lingkungan jadi pasti kepincut beginian. Terus PJK? karena keren! kita bisa tahu keadaan kondisi laut dengan bantuan satelit, tinggal edit-edit citra macam ngedit foto. pemantauan jarak jauh dari langit, satelit, remote sensing. Yang mengingatkan gua akan astronomi yang gak kesampean.

Jadi, minat apa dong? KRS bentar lagi woy.. mau ilmu apa tekno? tentukan pilihanmu!

*brb konsul dosen dulu dah..